I. MASALAH
Bagaimana hukum mendirikan Jum’at di dalam penjara yang berada di luar batas kota. Seperti di Sukamisin, adapun yang bersembahyang Jum’at ialah para orang hukuman yang berada di penjara itu, yang datang dari berbagai tempat. Sahkah Jum’at itu?
II. PUTUSAN
Tidak sah Jum’atnya orang yang dihukum selama hidup menurut Qaul Azhhar, dan pula tidak sah bagi orang-orang yang dihukum terbatas, menurut semua pendapat ulama.
III. REFERENSI
(وَلَوْ لاَزَمَ أَهْلُ الْخِيَامِ الصَّحْرَاءَ) أَيْ مَوْضِعًا مِنْهَا (أَبَدًا) وَلَمْ يَبْلُغْهُمْ النِّدَاءُ مِنْ مَحَلِّ الْجُمُعَةِ (فَلاَ جُمُعَةَ) عَلَيْهِمْ وَلاَ تَصِحُّ مِنْهُمْ (فِي اْلأَظْهَرِ) ِلأَنَّهُمْ عَلَى هَيْئَةِ الْمُسْتَوْفِزِيْنَ وَلَيْسَ لَهُمْ أَبْنِيَةُ الْمُسْتَوْطِنِيْنَ.
Seandainya penghuni kemah bertempat di padang pasir untuk selamanya, dalam hal mereka tidak mendengar seruan adzan dari tempat berlangsungnya shalat Jum’at, maka mereka tidak wajib shalat Jum’at dan shalat Jum’at mereka tidak sah, menurut pendapat yang lebih kuat, karena mereka dipandang sebagai kalangan nomaden (yang selalu hidup berpindah-pindah), dan mereka tidak memiliki bangunan tetap sebagai tempat tinggal.
- Muhammad al-Khathib asy-Syarbini, Mughnil Muhtaj ‘alal Minhaj, (Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, 1424 H/2003 M), Jilid I, h. 382.
22:48 |
Filed under
Fiqh,
Kajian,
Muktamar (Waqi'iyah),
Muktamar ke 9
|
Read More »
I. MASALAH
Bagaimana hukum membaca wirid Masyisyiyah karangan Imam Abdussalam al-Masyisyi, guru Imam Abdul Hasan Asy-Syadzili dengan panjang alifnya
Allah, Allah, Allah, dengan berhenti pada tiap-tiap kalimat, tiga kali, sementara orang yang mengerti, bahwa panjangnya hamzah itu untuk bersumpah untuk mengharapkan diterimanya doa,
menurut hadis yang artinya: “Sementara hamba Allah ada yang sewaktu sumpah harus melaksanakan sumpahnya,” seperti dalam Hizib Syadzili berbunyi:
Inqatha’at aamaalunaa waizzatika illaa minka, wakhaba rajaunaa wahaqqika illaa fiika, tetapi kebanyakan orang tidak mengerti; apakah pasti boleh membaca panjang hamzahnya atau tidak? Mohon keterangan dari Muktamar, karena para ulama di Martapura telah berselisih dalam hal itu
.
II. PUTUSAN
Sesungguhnya membaca Aallah, Aallah dalam Shalawat Masyisyiyah dengan pendek hamzahnya atau panjang itu hukumnya boleh (jaiz) apabila dibaca panjang, maka hamzahnya disambung dengan hamzah ta’rif, itu untuk bersumpah sebagaimana dalam hadis Muslim yang berbunyi: “Aallah maa aradhtu maa’aradhtu illaa wahidatan,” maka berkata: “Aallah maa aradhtu illa wahidatan,” dan siapa yang mendapat ijazah dari Guru dengan panjang untuk memperkuat doa dengan sumpah, maka harus membaca panjang, dan sumpah sebagaimana hadis tersebut dalam soal.
III. REFERENSI
Putusan ini sama dengan jawaban orang yang alim Syaikh Sa’id bin Muhammad al-Yamani pengajar di Masjidil Haram Makkah.
22:44 |
Filed under
Kajian,
Lainnya,
Muktamar (Waqi'iyah),
Muktamar ke 9
|
Read More »
I. MASALAH
Kalau menyewa tambak (balong) untuk mengambil ikannya dengan memancing atau menjaring, si penyewa kadang-kadang mendapat ikan banyak dan kadang-kadang tidak mendapat. Apakah menyewanya itu sah atau tidak?
II. PUTUSAN
Tidak sah menyewanya, dan uang sewanya pun tidak halal, karena barang itu tidak boleh menjadi hak milik dengan akad sewa.
III. REFERENSI
وَخَرَجَ بِغَيْرِ مُتَضَمِّنٍ لِاِسْتِيْفَاءِ عَيْنِ مَا تَضَمَّنَ اسْتِيْفَاؤُهَا أَيْ اِسْتِئْجَارُ مَنْفَعَةٍ تَضَمَّنَ اسْتِيْفَاءَ عَيْنٍ كَاسْتِئْجَارِ الشَّاةِ لِلَبَنِهَا وَبِرْكَةٍ لِسَمَكِهَا وَشَمْعَةٍ لِوَقُوْدِهَا وَبُسْتَانٍ لِثَمْرَتِهِ فَكُلُّ ذَلِكَ لاَ يَصِحُّ. وَهَذَا مِمَّا تَعُمُّ بِهِ الْبَلْوَى وَيَقَعُ كَثِيْرًا. Dan tidak termasuk hal-hal yang tidak menjamin terpenuhinya manfaat suatu barang (yang ditransaksikan) adalah suatu barang yang tidak dijamin kepemilikannya secara utuh dan bermanfaat seperti menyewakan kambing untuk diperah susunya, kolam untuk dipancing ikannya, lilin untuk penerangannya dan kebun untuk dipetik buahnya, semua ini tidak sah. Hal seperti ini sudah merupakan ‘umum balwa (keburukan yang terbiasa) dan sudah sering terjadi. - Al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anatuth Thalibin, (Singapura: Sulaiman Mar’i, t.th.), Jilid III, h. 114.
وَلَوِاسْتَأْجَرَ بِرْكَةً لِيَأْخُذَ مِنْهَا السَّمَكَ بَطَلَتْ وَلَوْ اسْتَأْجَرَ لِيَحْبِسَ فِيْهَا المَاءَ لِيَجْتَمِعَ فِيْهَ السَمَكَ جَازَ لأَنَّ اْلأَعْيَانَ لاَ تُمْلَكُ بِاْلإِجَارَةِ.
Dan seandainya seseorang menyewa tambak (balong) untuk diambil ikannya, maka itu batal (tidak sah). Seandainya seseorang menyewa tambak (balong) untuk mengumpulkan air agar ikan kumpul di dalamnya, maka itu adalah boleh, karena barang itu (ikan) tidak dapat berpindah hak milik dengan akad sewa. - Yusuf al-Ardabili, al-Anwar lil A’malil Abrar, (Cairo: al-Madani, 1389 H/1969 M), Jilid I, h. 603.
فَرْعٌ. قَالَ الشَّافِعَيُّ وَالأَصْحَابُ لاَ يَجُوْزُ أَنْ يَسْتَأْجِرَ البِرْكَةَ لأَحْدِ السَّمَكِ مِنْهَا لأَنَّ الأَعْيَانَ لاَ تُمْلَكُ بِالإِجَارَةِ. وَعَلَى هَذَا تَحْرُمُ إِجَارَتُهَا وَلاَ تَحِلُّ أُجْرَتُهَا لِلتَعَاطِى فِي المُعَامَلَةِ الفَاسِدَةِ.
Imam asy-Syafi’i dan al-ashhab (para pendukungnya) berpendapat, tidak boleh menyewakan kolam untuk diambil ikannya karena isi kolam itu tidak dipandang sebagai harta benda yang tidak dapat dimiliki dengan cara sewa-menyewa. Maka karenanya haram menyewakannya dan ongkos sewanya tidak halal oleh sebab berupa tukar-menukar secara fasid. - Muhyiddin an-Nawawi, al-Majmu’, (Beirut: Darul Fikr, t. th.), Jilid IX, h. 285. Footnote ini untuk ibarah faqrah (alenia) pertama, sedangkan faqrah kedua merupakan kesimpulan Muktamar yang diambil dari al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anatuth Thalibin, (Singapura: Sulaiman Mar’i, t.th.), Jilid IV tentang Ijarah.
|
22:40 |
Filed under
Kajian,
Muamalah,
Muktamar (Waqi'iyah),
Muktamar ke 9
|
Read More »
I. MASALAH
Jika menggali kubur, menemui tulang mayat lama, apakah menggalinya boleh diteruskan dan ditanami mayat yang baru, atau harus pindah ke tempat lain?
II. PUTUSAN
Sesungguhnya hukumnya menggali kubur yang telah lama, apabila telah ada tanda-tanda yang kuat, bahwa mayat itu sudah hancur, maka hukumnya jaiz (boleh), kemudian kalau menemukan tulang-tulang sebelum sempurnanya penggalian, maka harus pindah, tetapi kalau menemukan tulang-tulang itu setelah penggalian sempurna, maka tidak wajib pindah, boleh menanam mayat baru dan semua tulang-tulang yang ditemukan supaya ditanam kembali.
III. REFERENSI
وَلَوْ وُجِدَ بَعْضُ عَظَمِهِ قَبْلَ تَمَامِ الْحَفْرِ أَيْ بِأَن لَمْ يَبْلُغْ مَا يَجُوْزُ الدَّفْنُ فِيْهِ فِيْمَا يَظْهَرُ وَجَبَ رَدُّ تُرَابِهِ أَوْ بَعْدَهُ فَلاَ. وَيَجُوْزُ الدَّفْنُ مَعَهُ.
Jika terdapat beberapa tulang-belulang mayit sebelum penggalian kubur sempurna, artinya sebelum mencapai kedalaman yang dapat dilakukan penguburan karena terlalu dangkal, maka tanah galiannya harus dikembalikan lagi. Jika telah sampai pada (penggalian yang sempurna) maka tidak wajib mengembalikan tanah galiannya itu. Dan jenazah boleh dikuburkan bersama tulang-belulang tersebut.
- Ibnu Hajar al-Haitami, Fathul Jawad, (Mesir: Mushthafa al-Halabi, 1391 H/1971 M), Cet. ke-2, Jilid I, h. 245.
فَإِنْ عَجَلَ أَحَدٌ بِحَفْرِ قَبْرِهِ فَوَجَدَ مَيْتًا أَوْ بَعْضَهُ أُعِيْدَ عَلَيْهِ التُّرَابُ وَإِنْ خَرَجَ مِنْ عِظَامِهِ شَيْءٌ أُعِيْدَ فِي الْقَبْرِ.
Apabila seseorang terburu-buru dalam menggali kubur, lalu menemukan mayat atau sebagian daripadanya, maka tanahnya harus dikembalikan lagi. Jika tulang-belulangnya keluar maka harus dikembalikan ke dalam kubur.
- Muhammad Ibnu Idris asy-Syafi’i, al-Umm, (Mesir: Matba’atul Fanniyah al-Muttahidah), Cet. ke-1, th. 1381/1961, Juz I, h.277.
22:03 |
Filed under
Fiqh,
Kajian,
Muktamar (Waqi'iyah),
Muktamar ke 9
|
Read More »
I. MASALAH
Apakah hukum orang sembahyang dengan menghadap lurus ke barat benar, tidak membelok ke arah kiblat, dengan tidak niat mengikuti pendapat madzhab Hanafi yang memperbolehkan menghadap kiblat. Dan bagaimana hukum makmum pada orang yang menghadap demikian dengan tidak mengetahui apakah si imam itu niat mengikuti madzhab Hanafi, atau tidak mengerti pula bahwa menghadap demikian itu tidak sah menurut madzhab Syafi’i, sahkah sembahyangnya?
II. PUTUSAN
Sah sembahyangnya, bagi orang yang tidak mengerti mencari tanda-tanda kiblat yang sah, juga sembahyang makmum yang meyakinkan imamnya demikian halnya. Sedang bagi orang yang mengerti mencari tanda-tanda kiblat, dan dapat menghasilkan maka tidak sah sembahyangnya kecuali menghadap ke Ka’bah, juga tidak sah sembahyang yang dilakukan makmum yang tidak mengerti ketidaksahan imam.
III. REFERENSI
مَحَلَّ الإِكْتِفَاءِ بِالْجِهَّةِ عَلَى الْقَوْلِ بِهِ عِنْدَ عَدَمِ الْعِلْمِ بِأَدِلَّةِ الْعَيْنِ إِذِ الْقَادِرُ عَلَى الْعَيْنِ إِنْ فُرِضَ حُصُوْلُهُ بِالإِجْتِهَادِ لاَ يُجْزِيْهِ اِسْتِقْبَالُ الْجِهَّةِ قَطْعًا وَمَا حَمَلَ الْقَائِلُوْنَ بِالْجِهَّةِ ذَلِكَ إِلاَّ كَوْنَهُمْ رَأَوْا أَنَّ اسْتِقْبَالَ الْعَيْنِ بِالإِجْتِهَادِ مُتَعَذِّرٌ.
Ukuran memenuhi menghadap (kiblat) hanya berdasarkan arah (ke barat saja misalnya) adalah ketika tidak mampu mengetahui arah kiblat secara tepat, karena bahwa orang yang mampu mengetahui kiblat secara tepat dan ia dapat dipastikan mampu mengetahuinya dengan berijtihad, maka ia tidak boleh hanya sekedar menghadap arah saja. Dan maksud pendapat para ulama yang membolehkan menghadap arah saja adalah bagi mereka yang kesulitan untuk menghadap kiblat secara tepat.
- Abdurrahman Ba’alawi, Bughyatul Mustarsyidin, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371/1952), h. 39-40.
22:00 |
Filed under
Fiqh,
Kajian,
Muktamar (Waqi'iyah),
Muktamar ke 9
|
Read More »
I. MASALAH
Bagaimana hukum mengangkut mayat dengan kendaraan yang ditarik kuda atau manusia, seperti mayatnya orang kafir. Apakah itu boleh (mubah) mutlak, atau sewaktu ada masyaqqat, atau dilarang (mamnu’)?
II. PUTUSAN
Sesungguhnya mengangkut mayat dengan kendaraan itu boleh (jaiz), tetapi tidak dapat keutamaan seperti mengangkut di antara kedua batang kayu yang ditetapkan keutamaannya oleh para ulama.
III. REFERENSI
(وَالْحَمْلُ بَيْنَ الْعُمُوْدَيْنِ أَفْضَلُ مِنَ التَّرْبِيْعِ) إِنْ أُرِيْدَ ِلاِقْتِصَارٍ عَلَى أَحَدِهِمَا.
(وَالأَفْضَلُ أَنْ يَحْمَلَ الْجَنَازَةَ) عِنْدَ الْعَجْزِ الْمُتَقَدَّمِ عَنْ حَمْلِ الْمُقَدَّمَتَيْنِ كَمَا ذُكِرَ (خَمْسَةٌ).
فَإِنْ عَجَزُوْا فَسِتَّةٌ أَوْ ثَمَانِيَةٌ أَوْ أَكْثَرَ إِشْفَعًا بِحَسَبِ الْحاَجَةِ.
Membawa jenazah dengan dua batang kayu itu lebih baik dibandingkan empat batang kayu jika ingin memilih salah satunya. (Yang dimaksud lebih utama membawa jenazah), jika tidak mampu dibawa dua orang sebagaimana disebut adalah lima. Jika mereka tidak mampu maka enam, delapan atau lebih banyak secara genap sesuai keperluan.
- Ibnu Hajar al-Haitami, al-Minhajul Qawim dalam Muhammad Mahfuzh at-Tarmasi, Mauhibah Dzil Fadl (Mesir: al-Amirah al-Syarafiyah, 1326 H), Juz III, h. 328-329.
21:47 |
Filed under
Fiqh,
Kajian,
Muktamar (Waqi'iyah),
Muktamar ke 9
|
Read More »
I. MASALAH
Bagaimana hukum menelaah kitab-kitab karangan orang Kristen, seperti al-Munjid dan lain sebagainya, apakah haram atau tidak?
II. PUTUSAN
Tidak boleh menelaah kitab-kitab karangan bukan orang Islam, kecuali bagi orang yang mengerti dan dapat membedakan haq dan bathil.
III. REFERENSI
قَ قَالَ فِي الْفَتَاوَى الْحَدِيْثِيَّةِ لاَ يَجُوْزُ قِرَاءَةٌ سِيْرَةِ الْبَكْرِيّ ِلأَنَّ غَالِبَهَا بَاطِلٌ وَكَذِبٌ وَقَدْ اِخْتِلَطَ فَحَرُمَ الْكَلُّ حَيْثُ لاَ مُمَيَّزَ.
وَمِنْ ذَلِكَ تُعْلَمُ حُرْمَةُ قِرَاءَةِ نُزْهَةِ الْمَجَالِسِ وَنَحْوِهَا مِمَّا اِخْتَلَطَ الْبَاطِلُ فِيْهِ بِغَيْرِهِ حَيْثُ لاَ مُمَيَّزَ.
وَفِي التُّحْفَةِ: يُحْرَمُ عَلَى غَيْرِ عَالِمٍ مُتَبَحِّرٍ مُطَالَعَةُ نَحْوِ تَوْرَاةٍ عُلِمَ تَبْدِيْلُهَا أَوْ شَكَّ فِيْهِ.
Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah mengemukakan, tidak boleh membaca buku Sirah al-Bakriy karena sebagian besar isinya batil dan bohong serta campur aduk, maka keseluruhannya menjadi haram karena tidak bisa membedakannya.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa membaca buku Nuzhah al-Majalis dan semisalnya adalah haram karena di dalamnya terdapat kebathilan dan bercampur dengan yang lainnya serta sulit membedakannya.
Beliau dalam kitab Tuhfatul muhtaj mengemukakan, orang yang tidak mampu dan ilmunya tidak dalam haram membaca kitab seperti Taurat yang sudah dimaklumi kepalsuannya dan meragukan.
- Alawi al-Saqqaf, Mukhtashar al-Fawaidul Makkiyah, (Mesir: Musthafa al-Halabi, t.th.), h. 102-104.
21:42 |
Filed under
Aqidah,
Kajian,
Muktamar (Waqi'iyah),
Muktamar ke 9
|
Read More »
I. MASALAH
Kalau menyewa perahu, bagi para nelayan (pencari ikan) dengan seperenam pendapatan, kemudian si nelayan pinjam beberapa rupiah dari pemiliki perahu, dengan janji: Apabila tidak menyewa perahunya, maka wajib membayar pinjamannya seketika. Apa akad demikian itu sah atau tidak? Dan apa termasuk dalam larangan Nabi Saw. pinjaman karena mengambil keuntungan? Atau tidak?
II. PUTUSAN
Tidak sah akad demikian itu, karena tidak ada ketentuan ongkos sewanya, maka semua pendapatan menjadi hak milik nelayan, dan wajib membayar sewa ongkos perahu menurut yang biasa, dan tidak masuk dalam larangan Nabi Saw. “Pinjaman karena menarik keuntungan.” Sebab di sini yang mendapat keuntungan bukan yang memberi pinjaman, tetapi si peminjam.
III. REFERENSI
ق(وَلاَ طَحْنَ) لِبُرٍّ مَثَلاً (بِبَعْضِ دَقِيْقٍ) مِنْهُ كَثُلُثِهِ لِلْجَهْلِ بِثَخَانَةِ الْجِلْدِ وَبِقَدْرِ الدَّقِيْقِ وَلِعَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى اْلأُجْرَةِ حَالاً.ِ.
Dan tidak boleh gilingan gandum misalnya dengan sebagian tepung gandum tersebut, seperti sepertiganya karena tidak diketahui ketebalan kulit gandum tersebut dan perkiraan banyaknya tepung serta tidak dapat untuk dijadikan upah seketika itu.
- Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari, Fathul Wahhab dalam Muhammad al-Bujairimi, at-Tajrid li Naf’il ‘Abid, (Mesir:Musthafa al-Halabi, 1369 H/1950 M), Jilid III, h. 167.
(مَسْأَلَةُ ب) أُسْتُؤْجِرَ لِحَمْلِ شَيْءٍ يُوْصِلُهُ فِي مَرْكَبِهِ إِلَى مَكَانِ كَذَا وَشَرَطَ صَاحِبُ الْحَمْلِ أَنْ يُقْرِضَهُ دَرَاهِمَ إِلَى أَنْ يَبِيْعَ مَا حَمَلَهُ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْقَرْضِ الْمُحَرَّمِ وَإِنْ وَقَعَ فِي صُلْبِ الْعَقْدِ لأَِنَّ النَّفْعَ حِيْنَئِذٍ إِنَّمَا هُوَ لِلْمُقْتَرِضِ لأَِنَّهُ الَّذِي شَرَطَهُ وَإِنْ تَضَمَّنَ نَفْعًا لِلْمُقْرِضِ.
Jika (kendaraannya) disewa untuk membawa sesuatu guna mengantarnya ke suatu tempat dan pemilik kendaraan mensyaratkan untuk meminjaminya (terlebih dahulu) beberapa dirham sampai waktu barang yang dibawanya terjual, maka yang jelas demikian itu tidak termasuk pinjaman yang diharamkan meskipun terjadi di tengah-tengah aqad, karena manfaat yang ada hanyalah bagi peminjam, karena ia sendiri yang mensyaratkannya meskipun ia menjaminkan manfaat bagi peminjam.
- Abdurrahman Ba’alawi, Bughyatul Mustarsyidin, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371/1952), h. 135.
21:37 |
Filed under
Kajian,
Muamalah
|
Read More »
I. MASALAH
Bagaimana pendapat Muktamar atas pendapat salah satu sahabat atau ulama yang tidak cocok dengan pendapat ahli Madzhab Empat, bahkan ahli madzhab telah menerangkan kelemahan pendapat itu. Apakah boleh menjalankan pendapat tersebut? Atau tidak?
II. PUTUSAN
Tidak boleh menjalankan pendapat yang bertentangan dengan pendapat Madzhab Empat, apabila tidak mengetahui syarat-syaratnya dan segala ketentuannya.
III. REFERENSI
إِذَا تَمَسَّكَ الْعَامِيُّ بِمَذْهَبٍ لَزِمَهُ مُوَافَقَتُهُ وَإِلاَّ لَزِمَهُ التَّمَذْهُبُ بِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ مِنَ اْلأَرْبَعَةِ لاَ غَيْرَهَا. (قَوْلُهُ لاَ غَيْرَهَا) أَيْ غَيْرَ الْمَذَاهِبِ اْلأَرْبَعَةِ. وَهَذَا إِذَا لَمْ يُدَوَّنْ مَذْهَبُهُ. فَإِنْ دُوِّنَ جَازَ كَمَا فِي التُّحْفَةِ وَنَصُّهُ: يَجُوْزُ تَقْلِيْدُ كُلٍّ مِنَ اْلأَئِمَّةِ اْلأَرْبَعَةِ وَكَذَا مَنْ عَدَاهُمْ مِمَّنْ حَفِظَ مَذْهَبَهُ فِي تِلْكَ الْمَسْأَلَةِ وَدَوَّنَ حَتَّى عُرِفَتْ شُرُوْطُهُ وَسَائِرُ مُعْتَبَرَاتِهِ.
Apabila seorang awam berpegang kepada suatu madzhab, maka ia harus berbuat sesuai dengan madzhab itu. Jika tidak (sesuai dengan madzhab itu), maka ia harus bermadzhab dengan salah satu Madzhab Empat saja, tidak yang lainnya. Hal ini, jika madzhab lainnya itu tidak mudawwanah (terkodifikasi). Jika sudah mudawwanah maka mengikutinya boleh, sebagaimana dijelaskan dalam Tuhfah al-Muhtaj: Bertaklid (mengikuti) kepada salah satu Madzhab Empat dan imam madzhab lainnya yang terlestarikan madzhabnya dan mudawwanah dalam masalah yang berkaitan, sehingga diketahui syarat-syaratnya dan semua rujukannya adalah boleh.
- Zainuddin al-Malaibari, Fathul Mu’in, dalam al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anatuth Thalibin, (Singapura: Sulaiman Mar’i, t.th.), Jilid IV, h. 217.
21:31 |
Filed under
Fiqh,
Kajian,
Muktamar (Qanuniyah),
Muktamar ke 9
|
Read More »
I. MASALAH
Bagaimana pendapat Muktamar atas orang Islam yang menjadi Kristen sampai meninggal dunia belum kembali ke agama Islam. Apakah boleh ditanam dalam kuburan Islam atau tidak?
II. PUTUSAN
Tidak boleh ditanam dalam kuburan Islam (haram).
III. REFERENSI
وَلاَ يَجُوْزُ دْفَنُهُ فِي مَقَابِرِ الْمَسْلِمِيْنَ لِخُرٌوْجِهِ عَنْهُمْ بِالرِّدَّةِ.
Orang kafir (karena murtad) tidak boleh dikubur di pemakaman orang Islam, karena sudah keluar dari agama Islam.
- Muhammad Nawawi al-Jawi, Mirqatu Shu’udit Tashdiq, (Semarang: Usaha Keluarga, t.th.), h. 15.
21:26 |
Filed under
Aqidah,
Kajian,
Muktamar (Waqi'iyah),
Muktamar ke 9
|
Read More »