Meminum Minyak Al-Qur’an


I. MASALAH
Bagaimana hukum meminum yang dinamakan minyak al-Qur’an untuk memperkuat badan dan untuk menjauhkan diri dari perbuatan zina. Apakah haram, atau makruh, ataukah sunat, atau boleh (mubah)?


II. PUTUSAN
Kalau yang dimaksudkan itu air untuk merendam lafal-lafal al-Qur’an sampai hancur, maka hukumnya tidak haram.

III. REFERENSI
(قَوْلُهُ لاَ شُرْبُ مَحْوِهِ) أَي لاَ يَحْرُمُ شُرْبُ مَا مُحِيَ مِنَ الْقُرْآنِ. وَعِبَارَةُ الْمُغْنِيّ وَلاَ يُكْرَهُ كَتْبُ شَيْءٍ مِنَ الْقُرْآنِ فِي إِيْنَاءٍ لِيُسْقَى مَائُهُ لِلشِّفَاءِ.


Yang dimaksud dengan tidak meminum rendamannya, yaitu tidak haram meminum air rendaman tulisan ayat al-Qur’an. Dalam kitab Mughnil Muhtaj dijelaskan, bahwa menulis suatu ayat yang terdapat dalam al-Qur’an pada suatu tempat untuk diminum air larutannya sebagai upaya penyembuhan adalah tidak makruh.
- Al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anatuth Thalibin, (Singapura: Sulaiman Mar’i, t.th.), Jilid I, h. 69.

| | Read More »

Menyewa Tambak untuk Mengambil Ikannya


I. MASALAH
Kalau menyewa tambak (balong) untuk mengambil ikannya dengan memancing atau menjaring, si penyewa kadang-kadang mendapat ikan banyak dan kadang-kadang tidak mendapat. Apakah menyewanya itu sah atau tidak?


II. PUTUSAN
Tidak sah menyewanya, dan uang sewanya pun tidak halal, karena barang itu tidak boleh menjadi hak milik dengan akad sewa.

III. REFERENSI
وَخَرَجَ بِغَيْرِ مُتَضَمِّنٍ لِاِسْتِيْفَاءِ عَيْنِ مَا تَضَمَّنَ اسْتِيْفَاؤُهَا أَيْ اِسْتِئْجَارُ مَنْفَعَةٍ تَضَمَّنَ اسْتِيْفَاءَ عَيْنٍ كَاسْتِئْجَارِ الشَّاةِ لِلَبَنِهَا وَبِرْكَةٍ لِسَمَكِهَا وَشَمْعَةٍ لِوَقُوْدِهَا وَبُسْتَانٍ لِثَمْرَتِهِ فَكُلُّ ذَلِكَ لاَ يَصِحُّ. وَهَذَا مِمَّا تَعُمُّ بِهِ الْبَلْوَى وَيَقَعُ كَثِيْرًا.
Dan tidak termasuk hal-hal yang tidak menjamin terpenuhinya manfaat suatu barang (yang ditransaksikan) adalah suatu barang yang tidak dijamin kepemilikannya secara utuh dan bermanfaat seperti menyewakan kambing untuk diperah susunya, kolam untuk dipancing ikannya, lilin untuk penerangannya dan kebun untuk dipetik buahnya, semua ini tidak sah. Hal seperti ini sudah merupakan ‘umum balwa (keburukan yang terbiasa) dan sudah sering terjadi.
- Al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anatuth Thalibin, (Singapura: Sulaiman Mar’i, t.th.), Jilid III, h. 114.
وَلَوِاسْتَأْجَرَ بِرْكَةً لِيَأْخُذَ مِنْهَا السَّمَكَ بَطَلَتْ وَلَوْ اسْتَأْجَرَ لِيَحْبِسَ فِيْهَا المَاءَ لِيَجْتَمِعَ فِيْهَ السَمَكَ جَازَ لأَنَّ اْلأَعْيَانَ لاَ تُمْلَكُ بِاْلإِجَارَةِ.


Dan seandainya seseorang menyewa tambak (balong) untuk diambil ikannya, maka itu batal (tidak sah). Seandainya seseorang menyewa tambak (balong) untuk mengumpulkan air agar ikan kumpul di dalamnya, maka itu adalah boleh, karena barang itu (ikan) tidak dapat berpindah hak milik dengan akad sewa.
- Yusuf al-Ardabili, al-Anwar lil A’malil Abrar, (Cairo: al-Madani, 1389 H/1969 M), Jilid I, h. 603.
فَرْعٌ. قَالَ الشَّافِعَيُّ وَالأَصْحَابُ لاَ يَجُوْزُ أَنْ يَسْتَأْجِرَ البِرْكَةَ لأَحْدِ السَّمَكِ مِنْهَا لأَنَّ الأَعْيَانَ لاَ تُمْلَكُ بِالإِجَارَةِ.
وَعَلَى هَذَا تَحْرُمُ إِجَارَتُهَا وَلاَ تَحِلُّ أُجْرَتُهَا لِلتَعَاطِى فِي المُعَامَلَةِ الفَاسِدَةِ.


Imam asy-Syafi’i dan al-ashhab (para pendukungnya) berpendapat, tidak boleh menyewakan kolam untuk diambil ikannya karena isi kolam itu tidak dipandang sebagai harta benda yang tidak dapat dimiliki dengan cara sewa-menyewa. Maka karenanya haram menyewakannya dan ongkos sewanya tidak halal oleh sebab berupa tukar-menukar secara fasid.
- Muhyiddin an-Nawawi, al-Majmu’, (Beirut: Darul Fikr, t. th.), Jilid IX, h. 285. Footnote ini untuk ibarah faqrah (alenia) pertama, sedangkan faqrah kedua merupakan kesimpulan Muktamar yang diambil dari al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anatuth Thalibin, (Singapura: Sulaiman Mar’i, t.th.), Jilid IV tentang Ijarah.

| | Read More »

Mendirikan Masjid Di Wilayah Islam


I. MASALAH
Bagaimana hukumnya mendirikan masjid di kepulauan Islam yang penduduknya orang-orang Islam untuk melahirkan syiar Islam dan mendirikan jamaah, sunah ataukah fardhu kifayah?

II. PUTUSAN
Sesungguhnya mendirikan masjid itu hukumnya sunat muakkadah.

III. REFERENSI
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (اِبْنَوا الْمَسْجِدَ) نَدْبًا مُؤَكَّدًا (وَاتَّخِذُوْهَا جُمَّا) (رواه العقيلى و ابن أبى شيبة و البيهقى عن أنس ابن مالك)



Rasulullah saw. bersabda: “Bangunlah masjid dan jadikanlah sebagai tempat berkumpul.” Pengertian perintah Rasulullah saw. ini adalah sunnah muakkad (sangat dianjurkan) dan masjid itu sebagai tempat berjama’ah.
- Ali al-Azizi, as-Sirajul Munir, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1377 H/1957 M), Cet. ke-2, Jilid I, h. 24.
وَمِنْهُ يُؤْخَذُ أَنَّ الْوَاجِبَ فِي عِمَارَةِ السُّوْرِ إِنَّمَا هُوَ الْقَدْرُ الَّذِي يَنْدَفِعُ بِهِ الضَّرُوْرَةُ فَقَطْ. وَبِهَذَا تَعْلَمُ أَنَّ مَنْ جَعَلَ عِمَارَةَ الْمَسْجِدِ كَعِمَارَةِ السُّوْرِ فَقَدْ أَبْعَدَ ِلأَنَّ الْمَسْجِدَ لاَ يَضْطَرُّ إِلَيْهِ إِذْ لاَ تُتَوَقَّفُ صَلاَةٌ عَلَى صِحَّتِهِ وَلاَ نَظَرَ لِتَوَقُّفِ الإِعْتِكَافِ عَلَيْهِ لأَنَّ الإِعْتِكَافَ نَادِرٌ وَغَيْرُ وَاجِبٍ.



Dengan demikian dipahami bahwa yang wajib dalam membangun pagar (masjid) adalah sekedar keperluan yang mendesak saja. Hal ini engkau dapat mengetahui, bahwa orang yang menjadikan bangunan masjid sama seperti bangunan pagarnya, maka ia telah menjauhkannya, karena masjid tidak memerlukannya dan sahnya shalat tidak bergantung kepadanya, di samping tidak juga untuk iktikaf, karena iktikaf itu tidak wajib dan jarang dilakukan.
- Ibn Hajar al-Haitami, Al-Fatawaal Kubra al-Fiqhiyyah, (Bairut: Darul Fikr, 1403 H/1983M), Jilid IV, h. 244.

| | Read More »

Menyewa Perahu Seperenam Pendapatan


I. MASALAH
Kalau menyewa perahu, bagi para nelayan (pencari ikan) dengan seperenam pendapatan, kemudian si nelayan pinjam beberapa rupiah dari pemiliki perahu, dengan janji: Apabila tidak menyewa perahunya, maka wajib membayar pinjamannya seketika. Apa akad demikian itu sah atau tidak? Dan apa termasuk dalam larangan Nabi Saw. pinjaman karena mengambil keuntungan? Atau tidak?

II. PUTUSAN
Tidak sah akad demikian itu, karena tidak ada ketentuan ongkos sewanya, maka semua pendapatan menjadi hak milik nelayan, dan wajib membayar sewa ongkos perahu menurut yang biasa, dan tidak masuk dalam larangan Nabi Saw. “Pinjaman karena menarik keuntungan.” Sebab di sini yang mendapat keuntungan bukan yang memberi pinjaman, tetapi si peminjam.

III. REFERENSI
ق(وَلاَ طَحْنَ) لِبُرٍّ مَثَلاً (بِبَعْضِ دَقِيْقٍ) مِنْهُ كَثُلُثِهِ لِلْجَهْلِ بِثَخَانَةِ الْجِلْدِ وَبِقَدْرِ الدَّقِيْقِ وَلِعَدَمِ الْقُدْرَةِ عَلَى اْلأُجْرَةِ حَالاً.ِ.

Dan tidak boleh gilingan gandum misalnya dengan sebagian tepung gandum tersebut, seperti sepertiganya karena tidak diketahui ketebalan kulit gandum tersebut dan perkiraan banyaknya tepung serta tidak dapat untuk dijadikan upah seketika itu.
- Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari, Fathul Wahhab dalam Muhammad al-Bujairimi, at-Tajrid li Naf’il ‘Abid, (Mesir:Musthafa al-Halabi, 1369 H/1950 M), Jilid III, h. 167.
(مَسْأَلَةُ ب) أُسْتُؤْجِرَ لِحَمْلِ شَيْءٍ يُوْصِلُهُ فِي مَرْكَبِهِ إِلَى مَكَانِ كَذَا وَشَرَطَ صَاحِبُ الْحَمْلِ أَنْ يُقْرِضَهُ دَرَاهِمَ إِلَى أَنْ يَبِيْعَ مَا حَمَلَهُ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْقَرْضِ الْمُحَرَّمِ وَإِنْ وَقَعَ فِي صُلْبِ الْعَقْدِ لأَِنَّ النَّفْعَ حِيْنَئِذٍ إِنَّمَا هُوَ لِلْمُقْتَرِضِ لأَِنَّهُ الَّذِي شَرَطَهُ وَإِنْ تَضَمَّنَ نَفْعًا لِلْمُقْرِضِ.

Jika (kendaraannya) disewa untuk membawa sesuatu guna mengantarnya ke suatu tempat dan pemilik kendaraan mensyaratkan untuk meminjaminya (terlebih dahulu) beberapa dirham sampai waktu barang yang dibawanya terjual, maka yang jelas demikian itu tidak termasuk pinjaman yang diharamkan meskipun terjadi di tengah-tengah aqad, karena manfaat yang ada hanyalah bagi peminjam, karena ia sendiri yang mensyaratkannya meskipun ia menjaminkan manfaat bagi peminjam.
- Abdurrahman Ba’alawi, Bughyatul Mustarsyidin, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371/1952), h. 135.

| | Read More »