2013, LBM NU Banyumas Fokus Bahas Keumatan

Banyumas. Di tahun 2013, Pengurus Cabang Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM PCNU) Banyumas akan menyelenggarakan tiga kali forum bahtsul masail (pembahasan masalah hukum Islam). Kegiatan itu dijadwalkan pada 21 Mei, 8 Juni, dan 21 September dengan tempat berbeda-beda. 

Ketua PCNU Kabuapten Banyumas KH Maulana Ahmad Hasan mengatakan, keputusan forum bahtsul masail tersebut akan disebarkan ke seluruh warga dan jam'iyah Nahdlatul Ulama di Kabupaten Banyumas.

Ia menambahkan dengan forum tersebut, diharapkan berbagai permasalahan seputar hukum Islam yang sering dihadapi masyarakat dapat segera dipecahkan dan diperjelas hukumnya, “Apalagi dewasa ini berbagai persoalan hukum Islam semakin kompleks dan beragam," katanya kepada NU Online.

Pengurus LBM PCNU Banyumas Dr Ridwan mengatakan, dalam perkembangan globalisasi sekarang ini, banyak fenomena di masyarakat yang di masa lampau belum ada keputusan hukum Islamnya. 

Dosen STAIN Purwokerto ini menyebutkan, fenomena penggunaan teknologi dalam menunjang ibadah umat Islam contohnya. Hal ini bisa menimbulkan pertanyaan hukum bagi masyarakat dan diharapkan LBM dapat mencarikan ketetapan hukum Islamnya.

Dalam forum tersebut, sambung Ridwan, nantinya dapat diketahui bagaimana sebenarnya proses penetapan hukum Islam terhadap suatu masalah. Apa saja yang menjadi rujukan dari dan cara penetapan hukum ini, “Dalam bahtsul masail ada tiga metode, yaitu qauli (mengambil pendapat kitab fiqh mu'tabar), ilhaqi (menyamakan hukum satu kasus dengan kasus serupa), dan manhaji (mengikut ilangkah penetapan hukum imam madzhab)," jelasnya.

Forum pertaman LBM NU Banyumas telah digelar di Pondok Pesantren AthThohiriyah, Parakan Honje, Karangsalam, Purwokerto, Sabtu (18/5). Kiai Chayatul Maqy selaku moderator dalam pertemuan tersebut mengatakan, berbagai masalah dalam bahtsul masail ini akan diinventarisir, kemudian dipilih yang akan menjadi prioritas pembahasan dalam bahtsul masail selanjutnya, “Untuk itulah keaktifan dari seluruh MWC NU sangat dibutuhkan," jelasnya kepada NU Online Senin, (20/5).

Pertemuan tersebut diikuti 27 Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama di Banyumas. Turut hadir dan memberikan materi KH Charirie Sofa MAg. Hadir pula sejumlah kiai di salah satu kabuapten Jawa Tengah tersebut.


Post: NU Online, 21 Mei 2013
Repost: Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama 

| | Read More »

LBM NU kaji metode hukum di Maroko

London - Delegasi Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU melakukan pengkajian lebih dalam tentang metode penggalian hukum ulama Maroko dan menindaklanjuti program beasiswa dengan Kementrian Wakaf Maroko yang telah terbina beberapa tahun silam tiba di Maroko

H. Ali Syahbana selaku wakil ketua Tanfidziyah PCINU Maroko yang juga menjabat Badan Pengawas Organisasi (BPO) PPI Maroko mengatakan kunjungan Kementrian Wakaf Maroko dan KBRI, Rabat disambut Duta Besar Republik Indonesia Untuk Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja.

Koord. Dept. Media Informasi PPI Maroko dan Koord. Lajnah Ta`lif wa Nasyr PCINU Maroko, Kusnadi El-Ghezwa kepada ANTARA News, Sabtu mengatakan rombongan delegasi langsung menghadiri konferensi dengan ulama Maroko tentang Maqasid syariah dan problematika fiqih yang kontemporer.

Konferensi berangsung di Auditorium Institut Nasional Pos dan Telekomunikasi (INPT) Rabat, menghadirkan KH. Musthafa Aqil dan KH.Zulfa Musthafa yang dipandu Doktor. H. Narullah Jasam, demikian Ketua Tanfidziyah PCINU Maroko, Muanif Ridwan.

Acara ini berlangsung atas kerjasama KBRI Rabat dengan Asosiasi Persaudaraan Indonesia-Maroko (ASMIB) diharapkan jajaran LBM didalam menggali hukum kontemporer tidak melupakan ruh maqasid yang ada di dalamnya, sebab tidak ada hukum yang didalamnya tidak ada tujuan dan hikmahnya. Hukum yang lahir tadi selaras dengan tujuan Tuhan dalam menetapkan syariat.

Prof Dr. Mariam Ait Ahmed selaku Presiden Asosiasi Persaudaraan Maroko-Indonesia beserta ulama Maroko, H. Husnul Amal Mas`ud, MA dan Prabowo Wiratmoko Jati, Dewan Mustasyar PCINU Maroko beserta pengurus PCINU Maroko, H. Habib Choirul Must`ain, Lc. Selaku ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko serta mahasiswa STAINU Jakarta yang mengikuti progam Kelas Internasional di Univ. Ibn. Thufail Kenitra dan juga masyarakat setempat.

Selama di Maroko rombongan mengadakan pertemuan dengan jajaran petinggi kementrian wakaf Rabat, al majlis al `ilmi al a la rabat (Badan Pemberdayaan keilmuan pusat), Rektor universitas Qurawiyyin Fes serta jajaran pengurus PCI NU Maroko di kota Tanger.


Post: Antara, 23 Maret 2013
Repost: Lembaga Bahstul Masail Nahdlatul Ulama 

| | Read More »

LBM NU Buka Halaqah Deradikalisasi Paham Agama

Jakarta,
Lembaga Bahtsul Masail, LBM PBNU menggelar halaqah bertema ‘Deradikalisasi Pemahaman Keagamaan: Telaah atas Sejumlah Kitab Pemicu Gerakan Islam Radikal’ di Hotel Menteng I jalan RP Soeroso nomor 28, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (30/8) siang.

Halaqah ini diselenggarakan oleh LBMNU atas kerjasama dengan Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kemenag RI. Acara tersebut dibuka oleh Prof Machasin, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI.

“Untuk menanggulangi ideologi dan gerakan radikalisme agama, Kemenag RI perlu melibatkan kalangan ulama karena pelaku radikalisme atau terorisme selalu mengklaim bahwa upaya mereka adalah bagian dari aktualiasasi ajaran jihad,” ungkap Machasin di hadapan para peserta dalam sambutan pembukaan halaqah.

Sedikitnya 40 orang menghadiri acara tersebut. Mereka terdiri dari pengurus LBM PBNU, LBM daerah, LP Maarif NU, STAINU. Dengan bekal pengalaman, mereka telah siap secara secara wawasan atas persoalan yang terjadi di lapangan.

Sejumlah buku-buku terjemahan dari pemikir-pemikir Timur Tengah, sempat disebut oleh Machasin. Buku itu antara lain karya Sayyid Quthub, Abu A‘la Maududi, Abdullah Azzam, Abdullah bin Baz, dan Osama bin Laden. Itulah antara lain sejumlah karya yang perlu ditelaah ulang.

Kegiatan halaqah ini berlangsung selama tiga hari. Menurut agendanya, halaqah ini digelar sejak Kamis, 30 Agustus sampai Sabtu, 1 September 2012. 

Dalam tempo tiga hari itu, empat puluh peserta akan menelaah sejumlah kitab dan buku terjemahan yang disinyalir mengandung semangat radikal dan eksklusif. Selain menelaah, mereka juga membahas cara-cara mengurangi kadar radikalisasi akibat pengaruh kitab maupun buku-buku eksklusif.


Post: NU Online, 30 Agustus 2013
Repost: Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama

| | Read More »